ngobrolbarengsantri

lelah hanya sebuah siklus, teruslah berlari hingga kelelahan lelah mengejar kita

Antara berhijab dan berkarya lewat seni

klise

aku ingin menulis tentang tema yang sedikit aneh untuk ditulis tengah malam, bukan karena galau, bukan. aku cukup tergelitik ketika melihat sebuah vokalis group band favoritku dulu kembali tampil di sebuah acara musik tengah malam dengan penampilan yang berbeda. ya, sekarang ia menutupi kepalanya dengan sebuah kain hijab yang biasa kita sebut jilbab. dan tanpa merubah suara merdunya dan perform di panggung ia membawakan lagu cinta itu dengan baik dan tetap membuat pendengar nyaman.

Seringkali, orang terlalu berstigma negatif terhadap public figure yang memutuskan untuk berjilbab, sehingga karier dan popularitas mereka akan menurun seiring dengan berkurangnya fans. ada yang tetap teguh memegang ajaran agamanya meskipun tidak lagi populer, namun tudak sedikit pula yang kembali melepas hijab yang telah mereka kenakan. namun ada yang luput dari pandangan masyarakat pada umumnya. bahwa seni tetaplah seni, siapapun yang membawakan seni itu. apabila seni itu indah ia akan tetap dapat meraih hati penikmat seni yang betul-betul memahami seni. lain soal jika kita membahas permasalahan seni yang merusak moral dan tidak sesuai dengan adat ketimuran Indonesia yang sedang ramai di bahas saat ini. karena bagiku engkau lebih cantik dengan jilbab!.

Iklan
Tinggalkan komentar »

KAMAR KOTOR

Entah sudah berapa kali dalam bulan ini aku mendengar umi yang mengingatkan untuk membereskan kamar

Entah sudah berapa kali terbersit keinginan untuk membereskan kamar ini.

Entah sudah berapa kali kulihat pembantuku mengantarkan baju ke kamar dengan menggelengkan kepala, tapi dia tak sanggup untuk membereskannya karena umi selalu berkata kebersihan kamar itu tugas anak umi masing-masing. aku juga tak bisa menyalahkan pilihan hidupku yang mengharuskan aku untuk berangkat ke kampus pagi dan pulang ke rumah malam karena amanah-amanah ku. namun pikiran ini kembali melayang ke saat aku masih berstatus sebagai santri sebuah pondok pesantren di Boyolali dimana aku selalu membereskan kamar setelah setoran hafalan pada ustadz Slamet, disaat para a’do asrama ku masih terlelap dalam tidur setelah subuhnya. mengepel lantai depan yang kulakukan setiap hari entah berapa bulan dan juga menyapu bagian dalam asrama. dulu Faiz atau Rois selalu lewat sambil menanyakan, ” koq kamu kerjanya ngepel terus kak, a’do mu pada kemana?” atau sapaan ustadz slamet yang memanggil namaku “dzikri asykarullah. tentara Allah yg selalu berdzikir”. dan kondisiku saat ini yang jorok dan kotor sangat berbeda dari kondisiku 2 tahun yang lalu saat masih di pesantren.

jam di hand phone ku sudah menunjukkan pukul 12 lebih 44 menit malam dan aku masih membereskan buku-buku ku sembari tersenyum mengenang masa lalu.

Tinggalkan komentar »

Selamat Menulis

inginku terus mengurai makna lewat makna yang bertebaran. bukan untukku juga bukan untuk mu tapi untuk Nya

Tinggalkan komentar »

WTF of happiness

pada awalnya aku sendiri bingung dan malas untuk memikirkan tentang ini…. ” kebahagiaan”  banyak dari kita yang membicarakan masalah kebahagiaan tapi kita sendiri masih berdebat mengenai definisi dari kebahagiaan itu sendiri. bagiku dulu ketika masih nyantri, kebahagiaan adalah ketika bisa pulang kerumah bertemu orangtua atau sekedar keluar pondok mencari suasana lain. tapi saat ini ketika sudah menjadi mahasiswa hal seperti itu sudah menjadi sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. sehingga definisi kebahagiaan bagiku saat inipun berubah. sehinggu saat ini aku mulai berpikir bahwa bahagia itu muncul dari diri sendiri, terserah, mau lingkungan, teman bermain atau pola hidup berubah. jika hati ini bisa menjaga kebahagiaan … kita tetap bahagia.

Tinggalkan komentar »

Ramadhanku yang malang

hari ini memasuki hari ke delapan ramadahan, ramadhan ke 2 di rumah setelah lulus dari pesantren dan masuk universitas. banyak yang telah berubah dari ramadhan-ramadhan sebelumnya. intensitas ibadah sangat berkurang, intensitas maksiat juga bertambah. banyak hal yang terbuang sia-sia pada awal ramadhanku. entah karena banyaknya amanah yang aku miliki sehingga “feel” ramadhan tidak merasuk ke hati atau karena memang hati ini sudah semakin susah untuk menerima hidayah dan nasihat. sebuah ironi yang terjadi pada seorang mantan santri yang sudah enam tahun di pesantren. pada waktu seperti ini aku sungguh rindu akan perintah,hukuman dan bentakan dari ustadz yang selalu membangunkan sahur pada waktu ramadhan. rindu dengan suasana pesantren yang membangkitkan semangat untuk berlomba-lomba mengkhatamkan al-qur’an, tapi kenyataanya sekarang aku menghadapi situasi yang berbeda dan musuh terbesar saat ini adalah diriku sndiri dengan segala kemalasannya, kebodohannya dan keegoisannya…., entah tulisan ini kutujukan untuk apa, tapi inilah isi hatiku saat ini.

Tinggalkan komentar »